Close Menu
beritajatim.idberitajatim.id
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
beritajatim.idberitajatim.id
Web Utama
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
beritajatim.idberitajatim.id
Home»Lifestyle»Gen Z di Dunia Kerja: Masalahnya Bukan pada Mereka, tapi Sistemnya

Gen Z di Dunia Kerja: Masalahnya Bukan pada Mereka, tapi Sistemnya

Agathon AgnarAgathon Agnar Lifestyle 15 September 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Surabaya (beritajatim.id) – Dunia kerja tengah mengalami pergeseran besar. Generasi baru mulai masuk dan mengambil peran signifikan, yakni Generasi Z. Mereka lahir antara akhir 1990-an hingga awal 2010-an, tumbuh dalam era digital, dan kini hadir membawa budaya serta ekspektasi baru di kantor. Namun sayangnya, banyak dari mereka kerap dilabeli dengan stereotip negatif: malas, terlalu banyak menuntut, hingga dianggap kurang loyal terhadap perusahaan.

Padahal, bisa jadi masalahnya bukan terletak pada mereka, melainkan pada sistem kerja yang masih menggunakan pola lama. Sistem yang tidak sepenuhnya siap menghadapi dinamika generasi digital.

Banyak manajer senior merasa kewalahan menghadapi karyawan Gen Z. Dari kacamata mereka, pegawai baru ini tampak pasif, hanya menunggu instruksi, dan tidak menunjukkan inisiatif berarti. Tidak jarang muncul keluhan bahwa anak muda sekarang tidak bisa disuruh kerja keras seperti generasi sebelumnya.

Di sisi lain, Gen Z punya cerita berbeda. Mereka justru merasa frustrasi karena masuk ke dunia kerja yang penuh ambiguitas. Tugas sering datang tanpa arahan yang jelas, prioritas mudah bergeser, dan ekspektasi atasan kerap berubah tanpa komunikasi terbuka. Akibatnya, banyak energi mereka terkuras hanya untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya diinginkan perusahaan.

Fenomena ini bukan sekadar keluhan belaka. Berbagai studi internasional menunjukkan adanya kesenjangan ekspektasi antara generasi muda dengan sistem kerja konvensional.

Untuk memahami akar persoalan, kita perlu melihat cara Gen Z tumbuh. Mereka adalah generasi digital native. Sejak kecil, mereka terbiasa hidup dalam ekosistem yang serba jelas dan transparan.

Baca Juga:  5 Cara Mengatasi Sulit Tidur Setelah Terbangun Tengah Malam, Jangan Langsung Lihat Jam!

Dalam dunia game, misalnya, aturan main ditulis dengan rinci. Dalam media sosial, umpan balik datang instan melalui like, komentar, atau share. Hampir semua aspek kehidupan mereka bisa diukur, dipantau, dan dievaluasi secara real time.

Tak heran jika kemudian mereka juga membawa ekspektasi serupa ke dunia kerja. Studi Deloitte menyebut, Gen Z sangat menghargai tujuan kerja yang jelas, arah pengembangan diri, serta kepastian mengenai peran mereka di dalam organisasi.

Sayangnya, budaya kerja tradisional sering kali berbanding terbalik. Banyak organisasi masih mengandalkan komunikasi implisit, aturan tak tertulis, hingga hierarki kaku. Di sinilah benturan terjadi: logika kerja yang diharapkan Gen Z tidak sejalan dengan kenyataan yang mereka hadapi.

Benturan ini tidak hanya membuat Gen Z merasa frustrasi, tetapi juga merugikan perusahaan. Alih-alih memaksimalkan energi, kreativitas, dan keterampilan digital mereka, organisasi malah kehilangan potensi besar akibat kesenjangan komunikasi.

Tak jarang, karyawan muda yang merasa tidak diberi arah memilih untuk resign lebih cepat. Fenomena ini sudah terlihat dari meningkatnya angka turnover di kalangan Gen Z di berbagai sektor.

Alih-alih terus menyalahkan generasi baru, perusahaan perlu mengevaluasi sistem kerja. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:

  1. Komunikasi yang Jelas
    Atasan perlu menyampaikan tujuan, target, dan prioritas secara spesifik. Gen Z menghargai transparansi dan arahan yang konkret.
  2. Mentoring dan Feedback Rutin
    Mereka terbiasa dengan umpan balik cepat. Sistem review tahunan tidak lagi relevan. Memberikan feedback mingguan atau bulanan akan lebih efektif.
  3. Peluang Pengembangan Diri
    Gen Z ingin belajar dan berkembang. Fasilitasi mereka dengan pelatihan, workshop, atau kesempatan rotasi kerja.
  4. Fleksibilitas Kerja
    Budaya kerja kaku dengan jam kantor panjang sering dianggap tidak efisien. Generasi ini lebih menghargai hasil dibanding sekadar kehadiran fisik.
  5. Pemanfaatan Teknologi
    Sebagai generasi digital, mereka cepat beradaptasi dengan tools baru. Perusahaan yang lamban mengadopsi teknologi justru akan kehilangan daya tarik di mata mereka.
Baca Juga:  Lomba Desain Logo Surabaya Child Friendly Cities Initiative (CFCI): Raih Jutaan Rupiah dan Ciptakan Kota Ramah Anak!

Gen Z bukan generasi yang malas atau manja, melainkan generasi yang lahir dalam konteks berbeda. Mereka membawa pola pikir logis, terstruktur, dan terbiasa dengan sistem yang transparan. Jika dunia kerja masih bertahan pada cara lama, tentu benturan akan terus terjadi.

Daripada menyalahkan Gen Z, sudah saatnya organisasi melakukan pembaruan. Dengan komunikasi jelas, sistem yang lebih transparan, serta ruang pengembangan diri, energi generasi ini bisa dimaksimalkan. Pada akhirnya, dunia kerja yang sehat bukan hanya menguntungkan Gen Z, tapi juga membawa perusahaan menuju masa depan yang lebih relevan dan kompetitif. (aga)

Add beritajatim.id as a preferred source on Google+
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Berita
budaya kerja modern ekspektasi Gen Z Gen Z di dunia kerja Generasi Z dan sistem kerja Kesenjangan generasi di tempat kerja
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Berita Lainnya

Menikah Sederhana di KUA Jadi Tren, Pesta Mewah Ternyata Bukan Penentu Rumah Tangga Bahagia

20 Juli 2026 Lifestyle

Jangan Dianggap Sepele, Toxic Relationship Bisa Berdampak pada Kesehatan Fisik

17 Juli 2026 Lifestyle

7 Makanan yang Bisa Membantu Meningkatkan Kualitas Sperma, Penting untuk Program Hami

16 Juli 2026 Lifestyle
Ilustrasi penderita flu (foto : xframe)

Kemarau Basah Juli 2026: Kasus Flu dan Batuk Meningkat, Ini Penyebab serta Cara Mencegahnya

7 Juli 2026 Lifestyle

Gen Z Ramai Pilih Intimate Wedding, Lebih Personal dan Jadi Investasi untuk Kehidupan Setelah Menikah

7 Juli 2026 Lifestyle

5 Cara Mengatasi Sulit Tidur Setelah Terbangun Tengah Malam, Jangan Langsung Lihat Jam!

3 Juli 2026 Lifestyle
Leave A Reply Cancel Reply

Menikah Sederhana di KUA Jadi Tren, Pesta Mewah Ternyata Bukan Penentu Rumah Tangga Bahagia

20 Juli 2026
Berita Terbaru
Film Rejoto Nyambung Tresno menjadi media promosi wisata Kota Mojokerto sekaligus bukti keberhasilan pembinaan ekonomi kreatif oleh Pemkot.

Film Rejoto Nyambung Tresno Jadi Media Promosi Wisata Kota Mojokerto dan Bukti Sukses Ekonomi Kreatif

19 Juli 2026
Khofifah membuka Banyuwangi Ethno Carnival 2026 dan menegaskan BEC menjadi ajang promosi budaya lokal serta penggerak ekonomi kreatif Indonesia.

Khofifah Buka Banyuwangi Ethno Carnival 2026, BEC Perkuat Budaya Lokal dan Dongkrak Ekonomi Kreatif

19 Juli 2026
Dispendik Surabaya memastikan MPLS SD-SMP berlangsung ramah anak, bebas perpeloncoan, serta dipantau langsung melalui sistem Kementerian.

MPLS Surabaya 2026 Berakhir Kondusif, Dispendik Pastikan Seluruh Kegiatan Ramah Anak Tanpa Keluhan

18 Juli 2026
Polresta Malang Kota mengungkap jaringan narkotika lintas provinsi dengan menyita 3,2 kg sabu dan 2.480 butir ekstasi serta menangkap dua kurir.

Polresta Malang Kota Gagalkan Peredaran 3,2 Kg Sabu dan 2.480 Butir Ekstasi, Dua Kurir Ditangkap

18 Juli 2026
Khofifah meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi yang progres pembangunannya mencapai 88,7 persen dan ditargetkan segera beroperasi.

Khofifah Tinjau Sekolah Rakyat Terintegrasi Banyuwangi, Progres Hampir Rampung untuk Generasi Emas 2045

18 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Tentang
  • Network
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© 2026 beritajatim.ID | portal berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.