Mataram (beritajatim.id) – Keluarga Deni Apriadi Rahman, yang dikenal sebagai Dea Lipa, secara resmi menyampaikan permohonan maaf kepada publik. Permintaan maaf ini disampaikan setelah penampilan feminin Deni, termasuk penggunaan jilbab, menjadi viral dan memunculkan julukan ‘Sister Hong Lombok’ di media sosial.
Melalui pernyataan yang diwakili oleh bibinya, Maya, keluarga memohon maaf atas kegaduhan yang terjadi. “Sebelumnya, kami minta maaf atas kegaduhan yang tidak pernah kami duga terjadi melalui media sosial,” ucap Maya dalam konferensi pers di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Keluarga mengaku telah memberikan teguran dan nasihat kepada Deni terkait penampilannya tersebut. Nasihat itu telah diberikan sejak pertama kali Deni memutuskan untuk mengenakan hijab.
Klarifikasi Deni: Disabilitas dan Ekspresi Diri
Sementara itu, Deni Apriadi Rahman sendiri telah memberikan klarifikasi terbuka mengenai identitas dan alasannya berpenampilan feminin. Pria berusia 23 tahun asal Desa Mujur, Lombok Tengah, itu menegaskan bahwa dirinya berjenis kelamin laki-laki.
Deni mengungkapkan bahwa ia hidup sebagai penyintas disabilitas dengan keterbatasan pendengaran sejak kecil. Kondisinya semakin memburuk setelah mengalami kecelakaan di usia sekitar 10 tahun.
Ia juga menjelaskan bahwa profesinya sebagai Makeup Artist (MUA) dipelajarinya secara otodidak melalui YouTube dan media sosial. Soal penggunaan jilbab, Deni menyatakan bahwa itu murni merupakan bentuk ekspresi diri.
“Saya sama sekali tidak berniat menjadikan busana itu sebagai alat untuk menipu atau melecehkan siapa pun. Itu adalah bentuk ekspresi diri saya yang lahir dari kekaguman dan keinginan melindungi diri dari pelecehan,” jelasnya.
Bantah Tudingan Salat di Saf Perempuan
Deni dengan tegas membantah tuduhan yang menyebutkan bahwa ia pernah memakai mukena dan salat di saf perempuan di masjid. Ia menegaskan komitmennya untuk menghormati agama, rumah ibadah, dan tata cara beribadah.
Dampak dari viralnya kasus ini, menurut pengakuannya, sangat berat. Deni mengaku menerima ribuan komentar negatif berisi cacian, hinaan, hingga ancaman. Hal tersebut menyebabkan tekanan mental dan spiritual yang hebat, bahkan beberapa kali membuatnya kehilangan kendali atas diri sendiri.
Ia menyayangkan narasi-narasi tidak benar yang menyebar luas di platform seperti Facebook, Instagram, dan TikTok. Deni merasa difitnah dengan sebutan seperti kaum sodom, Sister Hong dari Lombok, bahkan penista agama. Katanya, pernyataan-pernyataan ini sangat melukai dirinya, keluarga, dan para pendukungnya. (ris)


as a preferred source on Google




