Jakarta (beritajatim.id) – Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menegaskan bahwa Moskow akan mengambil langkah balasan yang memadai, termasuk tindakan militer-teknis, apabila Greenland dimiliterisasi atau dijadikan basis kemampuan militer yang mengarah pada Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan Lavrov dalam sidang di Duma Negara Rusia, Rabu (12/2).
Lavrov menilai potensi pembangunan infrastruktur militer di Greenland sebagai ancaman langsung terhadap kepentingan strategis Rusia, khususnya di kawasan Arktik. Ia juga menuding NATO berupaya menjadikan wilayah tersebut sebagai arena konfrontasi baru.
Dalam wawancara yang disiarkan di platform daring Empatia Manuchi, Lavrov menyebut peningkatan aktivitas militer NATO di Arktik sebagai tantangan terhadap hak Rusia atas Jalur Laut Utara—rute pelayaran strategis yang diklaim Moskow sebagai bagian dari kepentingan nasionalnya.
Menurut Lavrov, sejumlah insiden yang terjadi di kawasan itu dipicu oleh manuver aliansi militer Barat. Ia memperingatkan bahwa konsekuensi dari eskalasi semacam itu dapat bersifat serius.
NATO Luncurkan “Arctic Sentry”
Di hari yang sama, NATO mengumumkan peluncuran misi baru bertajuk “Arctic Sentry”. Inisiatif ini disebut sebagai operasi multi-domain untuk memperkuat keamanan dan stabilitas di kawasan Arktik yang dinilai semakin strategis secara geopolitik.
Panglima Tertinggi Sekutu NATO di Eropa, Jenderal AS Alexus Grynkewich, menyatakan bahwa misi ini menegaskan komitmen aliansi dalam menjaga stabilitas di wilayah yang memiliki tantangan lingkungan ekstrem sekaligus nilai strategis tinggi.
Pada tahap awal, “Arctic Sentry” akan mengoordinasikan berbagai aktivitas militer negara-negara anggota, termasuk latihan yang direncanakan oleh Norwegia dan Denmark. Menteri Pertahanan Denmark memastikan Kopenhagen akan memberikan kontribusi signifikan. Jerman mengumumkan rencana pengerahan empat jet tempur Eurofighter sebagai bagian dari dukungan awal. Finlandia, yang berbatasan langsung dengan Rusia sepanjang 1.340 kilometer, menyambut langkah tersebut sebagai penguatan keamanan regional.
Meski demikian, belum ada kejelasan apakah NATO akan menambah kekuatan militer permanen dalam skala besar di bawah misi ini.
Bayang-Bayang Ambisi AS atas Greenland
Ketegangan di Arktik turut dipicu oleh pernyataan berulang Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan keinginan agar Greenland berada dalam pengaruh lebih besar Washington. Pulau yang merupakan wilayah otonom Denmark itu dinilai Trump penting bagi keamanan nasional AS.
Trump bahkan sempat menggulirkan wacana penempatan sistem pertahanan rudal “Golden Dome” di Greenland. Meski belakangan retorikanya melunak, Wakil Presiden AS JD Vance kembali menegaskan ambisi Amerika di kawasan Arktik dalam wawancara di Armenia. Ia menyinggung bahwa sejumlah sekutu dianggap kurang berinvestasi dalam keamanan Arktik, sehingga Amerika Serikat merasa berhak memperoleh manfaat sepadan atas peran perlindungannya.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov sebelumnya menyatakan bahwa dinamika di sekitar Greenland mencerminkan ambisi global Washington. Ia menegaskan Rusia akan tetap menjamin keamanan nasionalnya dalam situasi apa pun.
Denmark dan Greenland Buka Dialog
Di sisi lain, Denmark dan pemerintah Greenland telah memulai pembicaraan dengan Washington untuk meninjau kembali perjanjian tahun 1951 yang mengatur penempatan pasukan AS di pulau tersebut. Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen menyatakan bahwa negara-negara NATO mendukung kehadiran permanen di kawasan Arktik sebagai bagian dari penguatan keamanan regional.
Isu Greenland sebelumnya sempat memicu salah satu krisis terdalam dalam hubungan transatlantik dalam beberapa tahun terakhir. Trump akhirnya melunakkan sikapnya setelah menyebut adanya kesepahaman kerangka kerja dengan Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte untuk meningkatkan pengaruh AS melalui jalur aliansi.
Arktik Kian Jadi Medan Perebutan Strategis
Perkembangan terbaru ini menegaskan bahwa Arktik kini bukan sekadar kawasan terpencil bersuhu ekstrem, melainkan wilayah dengan nilai strategis tinggi—baik dari sisi jalur pelayaran, sumber daya alam, maupun pertahanan militer.
Dengan meningkatnya aktivitas NATO dan respons keras Rusia, Greenland berpotensi menjadi titik sentral dalam dinamika keamanan global yang terus berkembang. Ketegangan di kawasan ini diperkirakan akan tetap menjadi sorotan internasional dalam waktu dekat, seiring persaingan pengaruh antara kekuatan besar dunia. (ian)


as a preferred source on Google




