Jakarta (beritajatim.id) – Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan optimistis perekonomian Indonesia mampu mencapai pertumbuhan hingga 8 persen. Keyakinan tersebut didasarkan pada semakin kuatnya fondasi ekonomi nasional, reformasi fiskal yang terus berjalan, serta meningkatnya kontribusi investasi dan sektor swasta dalam menggerakkan aktivitas ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat menjadi pembicara dalam Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Minggu (28/6).
Menurut Purbaya, ketahanan ekonomi Indonesia telah terbukti mampu menghadapi berbagai tekanan global. Ia menilai capaian pertumbuhan ekonomi selama beberapa tahun terakhir menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi apabila berbagai mesin penggerak ekonomi dioptimalkan.
Ia mencontohkan, di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia masih mampu mencatatkan pertumbuhan yang relatif kuat. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, peluang untuk meningkatkan laju pertumbuhan menuju target 8 persen dinilai semakin terbuka.
Salah satu instrumen yang dinilai memiliki peran strategis adalah Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI). Menurut Purbaya, lembaga di bawah Kementerian Keuangan tersebut memiliki berbagai program pembiayaan yang dapat memperkuat daya saing pelaku usaha, khususnya UMKM berorientasi ekspor.
Ia menjelaskan, melalui Program Pembiayaan Kawasan Ekonomi, LPEI menyediakan fasilitas pembiayaan dengan bunga kompetitif bagi pelaku usaha. Skema tersebut diharapkan mampu memperluas kapasitas produksi sekaligus meningkatkan kinerja ekspor nasional.
Selain penguatan pembiayaan, Purbaya menilai target pertumbuhan ekonomi dapat dicapai secara bertahap. Langkah awal adalah mendorong pertumbuhan menuju kisaran 6 persen, kemudian meningkat secara berkelanjutan seiring membaiknya iklim investasi, meningkatnya produktivitas, serta penguatan ekspor nasional.
Menurutnya, target tersebut realistis apabila kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil berjalan secara terpadu. Sinergi antarlembaga dinilai menjadi kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah tantangan global.
Ia juga menyoroti berbagai kebijakan pemerintah sejak akhir 2025 yang diarahkan untuk memperkuat likuiditas, meningkatkan investasi, menjaga daya beli masyarakat, serta mempercepat realisasi belanja negara. Kebijakan tersebut diyakini mampu menciptakan efek berganda terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Di sisi lain, reformasi fiskal yang dijalankan pemerintah, khususnya di sektor perpajakan dan kepabeanan, dinilai akan semakin memperkuat penerimaan negara. Dengan ruang fiskal yang lebih besar, pemerintah memiliki kapasitas lebih luas untuk membiayai pembangunan, memperkuat infrastruktur, serta mendukung program-program strategis yang berdampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi.
Purbaya menegaskan, apabila reformasi fiskal, peningkatan investasi, penguatan ekspor, serta dukungan pembiayaan bagi dunia usaha dapat berjalan secara konsisten, target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan dalam beberapa tahun ke depan. (hdl)


as a preferred source on Google




