Jakarta (beritajatim.id) – Amerika Serikat (AS) dan Iran dilaporkan telah menyepakati penghentian sementara aksi saling serang serta akan melanjutkan perundingan mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz pada Selasa (30/6/2026) di Doha, Qatar. Informasi tersebut pertama kali dilaporkan media Amerika Serikat, Axios, yang mengutip seorang pejabat pemerintah AS.
Menurut laporan tersebut, kedua negara sepakat menahan eskalasi konflik untuk sementara sehingga lalu lintas kapal di Selat Hormuz dapat kembali berlangsung tanpa gangguan. Pertemuan di Doha disebut akan difokuskan pada upaya mencari solusi atas meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut.
Semula, pembicaraan antara Washington dan Teheran dijadwalkan berlangsung di Swiss dengan agenda utama membahas program nuklir Iran. Namun, meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz mendorong perubahan lokasi perundingan ke Doha sekaligus mengalihkan fokus pembahasan pada keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
Laporan Axios menyebutkan bahwa kedua pihak juga akan melanjutkan pembicaraan teknis yang sebelumnya tertunda akibat meningkatnya eskalasi militer dalam beberapa hari terakhir.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran tidak menghadiri pembicaraan teknis yang dijadwalkan pada Minggu (28/6/2026). Seorang anggota Kantor Pelestarian dan Publikasi Karya Pemimpin Tertinggi Iran menyebut keputusan tersebut dipengaruhi oleh serangan yang terjadi terhadap wilayah Iran serta belum terpenuhinya sejumlah ketentuan dalam nota kesepahaman dengan Amerika Serikat.
Dalam beberapa hari terakhir, ketegangan antara kedua negara meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Washington menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas dugaan agresi Iran terhadap pelayaran komersial di Selat Hormuz. Sebagai balasan, Iran dilaporkan menyerang sejumlah posisi militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Laporan yang sama juga mengungkapkan bahwa dalam putaran negosiasi sebelumnya di Swiss, delegasi Amerika Serikat dan Iran sempat menyepakati pembentukan jalur komunikasi langsung atau hotline antara militer AS dan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Jalur komunikasi tersebut dirancang untuk mengoordinasikan lalu lintas kapal di Selat Hormuz dan mengurangi risiko salah perhitungan militer. Namun hingga Sabtu (27/6/2026), fasilitas komunikasi itu disebut belum beroperasi.
Di sisi lain, situasi keamanan di kawasan Timur Tengah juga diwarnai perkembangan terbaru di Lebanon. Militer Israel pada Minggu dilaporkan menghancurkan sebuah terowongan bawah tanah di wilayah Majdal Zoun, Lebanon selatan. Ledakan tersebut terdengar hingga sejumlah kawasan di sekitarnya, sebagaimana diberitakan Kantor Berita Nasional Lebanon.
Pemerintah Israel melalui pernyataan bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan bahwa terowongan tersebut diduga digunakan untuk menyimpan ratusan senjata serta memiliki sejumlah titik peluncuran yang disebut dapat mengancam wilayah Israel. Pemerintah Israel juga menyebut telah memberikan pemberitahuan kepada Amerika Serikat sebelum operasi penghancuran dilakukan.
Operasi tersebut berlangsung di tengah implementasi kesepakatan kerangka kerja yang baru dicapai antara Amerika Serikat, Israel, dan Lebanon. Kesepakatan itu mencakup penarikan sebagian pasukan Israel dari dua wilayah di Lebanon selatan sebagai langkah awal menuju perdamaian jangka panjang.
Namun, kesepakatan tersebut mendapat penolakan dari kelompok Hezbollah. Wakil Ketua Dewan Politik Hezbollah, Mahmoud Qomati, menyatakan organisasinya tidak menerima perjanjian tersebut dan akan menentangnya melalui jalur politik maupun langkah lain yang dianggap perlu.
Qomati menegaskan Hezbollah tetap mendukung penempatan tentara Lebanon di seluruh wilayah perbatasan setelah Israel menarik seluruh pasukannya dari wilayah Lebanon. Meski demikian, ia menekankan bahwa dukungan tersebut tidak boleh diartikan sebagai bentuk persetujuan terhadap kerangka perjanjian yang telah ditandatangani.
Perkembangan terbaru di Selat Hormuz maupun Lebanon menunjukkan situasi keamanan di Timur Tengah masih sangat dinamis. Meski terdapat sinyal deeskalasi melalui rencana dialog antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, sejumlah persoalan mendasar, termasuk keamanan pelayaran internasional serta stabilitas kawasan, masih menjadi tantangan yang akan menentukan arah hubungan para pihak dalam beberapa waktu mendatang. (hdl)


as a preferred source on Google




