Jakarta (beritajatim.id) – Kalsium merupakan mineral paling melimpah di dalam tubuh manusia dan memiliki peran vital dalam menjaga kesehatan tulang, gigi, otot, saraf, hingga proses pembekuan darah. Sekitar 99 persen kalsium tersimpan di tulang dan gigi, sementara sisanya beredar di dalam darah dan jaringan otot untuk mendukung berbagai fungsi biologis penting.
Meski identik dengan susu, kebutuhan kalsium sebenarnya dapat dipenuhi dari berbagai sumber pangan, baik hewani maupun nabati. Para ahli juga mengingatkan bahwa penggunaan suplemen kalsium harus dilakukan secara bijak karena konsumsi berlebihan justru berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan.
Kalsium berfungsi sebagai komponen utama pembentuk tulang dan gigi sehingga membantu menjaga kekuatan struktur tubuh sekaligus menurunkan risiko osteoporosis seiring bertambahnya usia. Selain itu, mineral ini diperlukan agar otot, termasuk otot jantung, dapat berkontraksi dan berelaksasi secara normal. Kalsium juga berperan dalam transmisi sinyal saraf dari otak ke seluruh tubuh serta menjadi salah satu faktor penting dalam proses pembekuan darah ketika terjadi luka.
Untuk memenuhi kebutuhan harian, masyarakat tidak harus bergantung pada susu sapi. Berbagai bahan pangan lain juga mengandung kalsium dalam jumlah yang cukup tinggi, seperti keju, yogurt, ikan sarden, salmon yang dikonsumsi bersama tulangnya, ikan teri, bayam, kale, sawi hijau, brokoli, pakcoy, tahu dan tempe yang diolah menggunakan kalsium sulfat, kacang almond, biji wijen, edamame, hingga produk pangan yang diperkaya kalsium seperti susu kedelai, susu almond, sereal, dan jus jeruk fortifikasi.
Suplemen kalsium dapat menjadi solusi bagi kelompok tertentu, terutama mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dari makanan sehari-hari, seperti penderita intoleransi laktosa berat, individu dengan pola makan vegan yang sangat ketat, atau pasien osteoporosis yang mendapat rekomendasi dari dokter. Namun, penggunaan suplemen tidak dianjurkan secara sembarangan tanpa pertimbangan medis.
Konsumsi suplemen kalsium secara berlebihan dapat menyebabkan hiperkalsemia atau kelebihan kadar kalsium dalam darah. Kondisi ini berisiko memicu terbentuknya batu ginjal, meningkatkan potensi kalsifikasi pembuluh darah yang berkaitan dengan gangguan kardiovaskular, serta menimbulkan gangguan pencernaan seperti sembelit, kembung, dan mual. Sebaliknya, kalsium yang berasal dari makanan alami relatif aman karena tubuh memiliki mekanisme untuk mengatur penyerapannya. Oleh karena itu, konsultasi dengan tenaga medis tetap disarankan sebelum mengonsumsi suplemen secara rutin.
Kebutuhan kalsium setiap orang berbeda sesuai usia dan kondisi fisiologis. Bayi membutuhkan sekitar 200–260 miligram per hari, anak-anak usia 1–8 tahun memerlukan 700–1.000 miligram, sedangkan remaja usia 9–18 tahun membutuhkan sekitar 1.300 miligram sebagai masa puncak pembentukan massa tulang. Orang dewasa usia 19–50 tahun dianjurkan mengonsumsi 1.000 miligram per hari, sementara perempuan berusia 51–70 tahun serta lansia di atas 70 tahun memerlukan sekitar 1.200 miligram. Ibu hamil dan menyusui membutuhkan asupan sekitar 1.000–1.300 miligram setiap hari, tergantung usia ibu.
Selain memenuhi kebutuhan kalsium, kecukupan vitamin D juga menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan tulang. Tanpa vitamin D yang cukup, tubuh hanya mampu menyerap sekitar 10–15 persen kalsium dari makanan. Angka tersebut dapat meningkat menjadi sekitar 30–40 persen apabila kadar vitamin D dalam tubuh terpenuhi. Vitamin D bekerja dengan membantu usus menyerap kalsium ke dalam aliran darah dan menjaga keseimbangan kadar kalsium bersama hormon paratiroid. Di sisi lain, vitamin K2 juga berperan mengarahkan kalsium menuju tulang dan gigi sehingga mengurangi risiko penumpukan kalsium di pembuluh darah.
Vitamin D dapat diperoleh secara alami melalui paparan sinar matahari pagi selama sekitar 10–15 menit. Selain itu, vitamin ini juga tersedia dalam berbagai bahan pangan seperti ikan berlemak, antara lain salmon, tuna, dan kembung, kuning telur, hati sapi, serta produk pangan yang telah difortifikasi.
Memenuhi kebutuhan kalsium melalui pola makan bergizi seimbang, disertai asupan vitamin D yang cukup, menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan tulang dan fungsi tubuh secara menyeluruh. Suplemen dapat menjadi pilihan bila memang dibutuhkan, namun penggunaannya sebaiknya dilakukan berdasarkan anjuran tenaga kesehatan agar manfaat yang diperoleh lebih optimal dan risiko efek samping dapat diminimalkan. (aga)


as a preferred source on Google




