Badung (beritajatim.id) – Suasana haru menyelimuti Kongres Ke-6 PDI Perjuangan (PDIP) yang digelar di Bali Nusa Dua Convention Center, Badung, Bali, Sabtu (2/8).
Sekretaris Jenderal demisioner PDIP, Hasto Kristiyanto, tiba-tiba muncul di tengah pidato politik Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dan langsung memeluk serta mencium tangan sang ketua umum, yang kemudian menitikkan air mata.
Momen emosional tersebut terjadi saat suasana ruangan sedang hening. Hasto yang baru saja bebas dari tahanan KPK naik ke panggung menghampiri Megawati. Sontak seluruh kader PDIP yang hadir memberikan tepuk tangan meriah dan meneriakkan nama Megawati berulang kali.
“Saya tadinya berdoa tetapi saya tidak terlalu berharap, bahwa yang namanya Pak Hasto, berada kembali di kelilingi kita semua,” ujar Megawati, sembari menyeka air mata menggunakan tisu.
Presiden ke-5 Republik Indonesia itu melanjutkan pidatonya dengan suara bergetar, menyampaikan bahwa kehadiran Hasto adalah bukti bahwa kebenaran akan selalu menemukan jalannya.
“Maka ingatlah apa yang tadi saya katakan, harus teguh, harus setia, karena itulah anugerah yang diberikan kepada manusia oleh Allah Subhana Wa Ta’ala,” tegas Megawati kepada para kadernya.
Hasto Resmi Bebas Usai Dapat Amnesti Presiden
Kehadiran Hasto dalam kongres tersebut menjadi sorotan karena sehari sebelumnya, pada Jumat malam (1/8) pukul 21.23 WIB, ia baru saja dibebaskan dari Rumah Tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) setelah memperoleh amnesti dari Presiden Prabowo Subianto.
Dalam pernyataan singkatnya usai keluar dari rutan, Hasto menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan dan berterima kasih kepada seluruh kader PDIP yang terus mendukungnya selama proses hukum berlangsung.
“Seluruh masyarakat Indonesia dan khususnya seluruh simpatisan anggota dan kader PDI Perjuangan, hari ini, 1 Agustus 2025, saya mengucapkan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa,” ujar Hasto kepada media.
Momen ini menjadi simbol kembalinya Hasto ke panggung politik nasional setelah melewati proses hukum yang cukup panjang. Kehadirannya juga dianggap sebagai momentum konsolidasi kekuatan internal PDIP menjelang agenda-agenda strategis partai ke depan. (hdl)


as a preferred source on Google




