Surabaya (beritajatim.id) – Bagi banyak pekerja muda, bertemu mantan pacar di lift kantor sudah cukup membuat jantung berdegup kencang. Namun bagaimana jika kalian harus duduk satu tim, satu proyek, atau bahkan satu ruangan setiap hari?
Situasi ini bukan hal yang langka di perusahaan besar maupun startup. Konflik emosi yang tidak dikelola di tempat kerja dapat menurunkan produktivitas hingga 40 persen.
Lantas, bagaimana caranya tetap profesional tanpa harus mengundurkan diri? Berikut panduan praktis yang dirangkum dari praktisi HRD dan psikolog industri.
1. Tetapkan Batasan Sejak Hari Pertama
Jangan menunggu situasi memanas. Buat kesepakatan tidak tertulis dengan mantan mengenai batasan komunikasi kerja. Di sebuah perusahaan teknologi misalnya, aturan ini penting untuk mencegah misinterpretasi.
Misalnya, komunikasi hanya melalui email atau Slack untuk urusan pekerjaan, bukan via pesan pribadi di luar jam kerja. Jika tidak memungkinkan untuk berdiskusi langsung dengan mantan, koordinasikan melalui atasan atau rekan tim.
2. Hindari Gosip dan Curhat ke Rekan Kerja
Salah satu kesalahan paling fatal adalah menjadikan rekan kantor sebagai tempat curhat. Begitu gosip menyebar, profesionalisme akan dipertanyakan.
Pilihlah tempat curhat yang aman: sahabat di luar kantor, psikolog, atau jurnal pribadi. Jangan pernah membahas masa lalu, kesalahan mantan, atau alasan putus di meja makan kantin.
3. Fokus pada Output, Bukan pada Orangnya
Alihkan energi dari emosi ke hasil kerja. Setiap kali merasa tidak nyaman, ingatkan diri sendiri bahwa Anda dibayar untuk menyelesaikan tugas, bukan untuk mengatur perasaan. Teknik yang disarankan seorang psikolog, gunakan metode task-oriented mindset.
Tulis daftar pencapaian harian. Ketika fokus pada target, otak akan secara otomatis meredam distraksi emosional. Dalam jangka panjang, hal ini justru membangun reputasi sebagai karyawan yang tangguh.
4. Jaga Komunikasi Singkat, Padat, dan Netral
Gunakan bahasa yang sangat formal saat berinteraksi. Hindari sapaan akrab, candaan pribadi, atau nada bicara yang bisa ditafsirkan ganda. Contoh efektif: “Terkait revisi laporan Q3, mohon dikirimkan datanya sebelum jam 3 sore.”
Hindari kalimat seperti: “Kalau kamu tidak sibuk, boleh tolong bantu?” karena menyisakan ruang ambigu. Komunikasi yang transparan juga melindungi Anda jika nanti terjadi konflik terkait pekerjaan.
5. Siapkan Strategi Jika Harus Satu Tim Proyek
Tidak bisa dihindari? Minta mentor atau project leader untuk menjadi penengah. Perusahaan yang sehat biasanya mendukung rotasi peran jika terjadi konflik interpersonal yang mengganggu kinerja tim.
Jika memungkinkan, dokumentasikan setiap pembagian tugas melalui risalah rapat. Ini bukan tindakan tidak percaya, melainkan standar profesional yang berlaku untuk semua anggota tim.
6. Kenali Kapan Harus Minta Bantuan HRD
Jika mantan mulai melakukan tindakan tidak pantas (menyabotase pekerjaan, menyebarkan aib, atau pelecehan verbal), segera laporkan ke HRD. Jangan menunggu hingga kondisi mental Anda terganggu.
Perusahaan wajib menciptakan lingkungan kerja yang aman. Melapor bukan berarti lemah, justru menunjukkan keberanian untuk menjaga profesionalisme sistemik.
Yang Tidak Boleh Dilakukan
- Membandingkan pacar baru di depan mantan (ini pemicu drama)
- Mengubah password Wi-Fi atau akses bersama karena emosi
- Menangis di toilet kantor setiap kali bertemu (cari ruang konseling jika perlu)
Bekerja satu kantor dengan mantan memang ujian kedewasaan. Namun dengan batasan yang jelas, komunikasi netral, serta fokus pada kinerja, Anda justru bisa tampil sebagai profesional sejati.
Ingatlah nasihat, “Kantor adalah arena untuk membangun karier, bukan untuk menyelesaikan urusan hati. Pisahkan secara tegas.”
Jika Anda merasa tidak sanggup, tidak ada salahnya meminta pindah divisi atau konsultasi dengan psikolog perusahaan. Namun selama mantan tidak melanggar etika, bertahan dan membuktikan bahwa Anda profesional adalah kemenangan terbesar. (hdl)


as a preferred source on Google




