Surabaya (beritajatim.id) – Fenomena performative male atau pria performatif kini tengah ramai dibicarakan di berbagai platform media sosial. Istilah ini merujuk pada citra diri yang dibangun sebagian pria, khususnya dari kalangan Generasi Z, untuk terlihat progresif, sensitif, dan emosional—meski sering kali hanya di permukaan.
Tren ini pertama kali berkembang di dunia maya, namun perlahan merambah ke kehidupan nyata. Bahkan, sebuah kontes bertema performative male pernah digelar di Jakarta dan sempat viral setelah diunggah akun Instagram @ussfeeds. Dari situ terlihat jelas, fenomena ini bukan sekadar obrolan digital, melainkan sudah menjadi bagian dari budaya pop.
Menurut media internasional Stuff, pria performatif adalah sosok yang tampil seolah progresif dan sadar emosional. Mereka mungkin terlihat akrab dengan buku feminis, rutin bicara tentang kesehatan mental, hingga rajin mendengarkan musisi indie. Namun, motivasi utama di balik citra itu sering kali bukanlah pertumbuhan pribadi, melainkan demi validasi sosial dan daya tarik di mata perempuan modern.
Fenomena ini bisa dikenali dari beberapa pola yang muncul, antara lain:
- Persona Tampilan
Mereka kerap menampilkan atribut yang dianggap berlawanan dengan maskulinitas tradisional, seperti membawa tote bag, minum matcha, rajin terapi, hingga paham astrologi. - Konten Media Sosial
Kehidupan mereka dibingkai dalam unggahan estetik di TikTok atau Instagram. Narasi yang muncul biasanya tentang healing, self-love, atau self-care. - Motivasi Terselubung
Alih-alih tumbuh secara autentik, motivasi di balik persona ini sering kali hanya untuk memikat orang lain atau mendapatkan pengakuan sosial.
Dari sisi psikologi, fenomena ini punya sisi positif karena menantang maskulinitas lama yang kaku. Namun, masalah muncul ketika yang ditonjolkan hanya citra luar. Di balik kesan lembut dan terbuka, ada dorongan kuat akan validasi dan status.
Fenomena serupa sebenarnya bukan hal baru. Pada era 1970-an, misalnya, banyak pria yang menyatakan dukungan pada gerakan feminisme kedua. Namun, tidak jarang motivasinya sekadar untuk mendekati perempuan atau menghindari kritik sosial.
Lalu di era 1990-an, budaya pop melahirkan arketipe “pria bohemian” atau “sad boy” lewat film Reality Bites hingga High Fidelity. Sosok ini digambarkan emosional dan puitis, tetapi tetap menyimpan sisi manipulatif.
Kini, atribut performatif lebih modern: dari puisi dan musik eksperimental bergeser ke matcha, tote bag, kamera analog, hingga diskusi feminisme di kafe. Meski wujudnya berubah, pola dasarnya tetap sama—membangun citra demi validasi.
Fenomena performative male mengingatkan kita bahwa autentisitas tetap lebih penting daripada sekadar tampilan estetik. Pertumbuhan pribadi seharusnya berangkat dari ketulusan, bukan hanya untuk menarik perhatian atau mencari pengakuan.
Pada akhirnya, tren ini membuka diskusi penting tentang maskulinitas, gender, dan relasi sosial di era digital. Namun, publik perlu lebih kritis: apakah seorang pria benar-benar tumbuh dan belajar, atau sekadar membangun persona demi citra sosial? (aga)


as a preferred source on Google




