Jakarta (beritajatim.id) – Sebuah laporan pendidikan global terbaru dari Cambridge University Press & Assessment mengungkap fakta mengkhawatirkan: kurang dari setengah siswa merasa siap menghadapi masa depan, meskipun para guru memiliki keyakinan lebih tinggi terhadap kesiapan mereka.
Laporan berjudul “Menavigasi Masa Depan: Mempersiapkan Peserta Didik untuk Sukses di Dunia yang Terus Berubah” ini merupakan hasil survei terhadap sekitar 7.000 guru dan siswa dari 150 negara. Laporan tersebut juga diperkuat dengan wawasan dari para pakar lintas bidang, termasuk pendidikan, psikologi, teknologi, dan kebijakan global.
Teknologi Jadi Pedang Bermata Dua
Salah satu temuan utama laporan ini adalah soal peran teknologi digital dalam pendidikan. Di satu sisi, teknologi dipandang mampu memperkuat pembelajaran. Namun di sisi lain, siswa dan guru juga mencemaskan gangguan dan ketergantungan yang berlebihan pada perangkat.
“88% guru menyatakan bahwa rentang perhatian siswa semakin pendek,” tulis laporan tersebut.
Keterampilan Penting, Tapi Sulit Dikuasai
Manajemen diri (self-management) dianggap sebagai keterampilan paling penting untuk masa depan, tetapi juga yang paling sulit untuk diajarkan dan dipelajari. Sekitar 23% guru dan 19% siswa mengaku mengalami kesulitan dalam aspek ini.
Sementara itu, keterampilan komunikasi—termasuk empati dan kemampuan sosial—dianggap sangat penting untuk keberhasilan akademik dan sosial. Sayangnya, 61% guru mengatakan bahwa rasa takut dihakimi menjadi hambatan besar dalam membina keterampilan interpersonal siswa.
“Sekolah harus menciptakan lingkungan yang aman secara psikologis dan inklusif,” kata laporan itu.
Pengetahuan Akademik Tak Cukup
Menariknya, laporan ini juga mengungkap bahwa meskipun pengetahuan mata pelajaran penting untuk kemajuan pendidikan, ia dipandang kurang relevan setelah siswa lulus. Artinya, fokus pendidikan ke depan harus lebih seimbang antara konten akademik dan pengembangan keterampilan.
Kurang dari:
- 48% siswa merasa siap untuk pendidikan berikutnya
- 45% siswa merasa siap menghadapi kehidupan setelah sekolah
- Sebaliknya, 67% guru yakin siswa mereka siap melanjutkan pendidikan, dan 59% percaya mereka siap menghadapi masa depan.
Pandangan Ahli dan Praktisi
Michael Stevenson, Konsultan Senior OECD, menyatakan bahwa laporan ini penting karena menempatkan siswa sebagai pusat perubahan.
“Jika kaum muda ingin berkembang, mereka harus menemukan cara membangun tujuan dan kemandirian. Di sinilah peran pendidikan,” tegasnya.
Senada, Dr. Iwan Syahril, mantan Dirjen GTK Kemendikbud RI, menilai bahwa laporan ini adalah sinyal kuat bagi reformasi pendidikan global.
“Dengan lensa yang lebih berani dan melibatkan banyak pemangku kepentingan, karya ini bisa memengaruhi praktik pendidikan dunia secara luas,” ujarnya.
Langkah Nyata Cambridge
Sebagai tindak lanjut dari temuan ini, Cambridge telah meluncurkan sejumlah inisiatif, di antaranya:
- Profil Keterampilan, alat baru untuk membantu siswa mengenali dan mengembangkan keterampilan penting;
- Sumber daya guru untuk penguatan fungsi eksekutif, bekerja sama dengan Prof. Sara Baker dari University of Cambridge;
- Forum Pendidikan Global dan forum siswa permanen untuk menyuarakan ide masa depan;
- Kurikulum Kesejahteraan Psikologis untuk siswa usia 14 tahun ke atas.
Pendidikan Internasional di Persimpangan Strategis
Menurut Rod Smith, Managing Director Cambridge International Education, temuan ini menegaskan pentingnya peran sekolah dan guru dalam era perubahan global.
“Sekarang adalah momen penting bagi pendidikan global. Sekolah hebat, guru hebat, dan kurikulum yang jelas akan menjadi fondasi masa depan yang tangguh,” ungkapnya.
Laporan Cambridge ini menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya soal nilai dan ujian, tetapi juga soal kesiapan mental, sosial, dan emosional siswa untuk menghadapi dunia yang terus berubah. Dalam konteks tersebut, peran guru dan desain kurikulum menjadi lebih penting dari sebelumnya. (aga)


as a preferred source on Google



