Hong Kong (beritajatim.id) – Kebakaran hebat yang melanda kompleks hunian bertingkat Wang Fuk Court di Hong Kong kembali menambah jumlah korban jiwa. Otoritas setempat pada Minggu melaporkan bahwa total korban tewas telah mencapai 146 orang, sementara sekitar 40 orang masih dinyatakan hilang dalam insiden yang disebut sebagai kebakaran paling mematikan di wilayah tersebut dalam tujuh dekade terakhir.
Tim penyelamat menemukan tambahan 18 jenazah di salah satu menara kompleks tersebut, dengan sejumlah korban tergeletak di tangga darurat maupun atap bangunan setelah berupaya menyelamatkan diri. Kepala Unit Penyelidikan Korban, Karen Tsang Shuk-yin, menjelaskan bahwa proses identifikasi masih berlangsung karena 54 jenazah belum dapat dikenali. Selain itu, sekitar 100 orang masih belum terkonfirmasi keberadaannya.
Komandan Kepolisian Wilayah, Amy Lam Man-han, menuturkan bahwa pencarian menyeluruh masih membutuhkan waktu, terutama karena beberapa area yang paling sulit dijangkau belum bisa diperiksa sepenuhnya. Sementara itu, laporan dari Asosiasi Korban Kecelakaan Industri menyebutkan bahwa lima pekerja konstruksi yang terlibat dalam renovasi kompleks tersebut turut menjadi korban, sebagaimana disampaikan oleh pimpinan organisasinya, Fay Siu Sin-man.
Di sekitar lokasi kejadian, warga terus berdatangan meninggalkan karangan bunga sebagai bentuk belasungkawa. Hong Kong menetapkan masa berkabung selama tiga hari, sementara investigasi terus berjalan untuk mengungkap penyebab kebakaran yang menimbulkan korban dalam jumlah besar.
Kasus ini memicu tuntutan meningkatnya akuntabilitas dan transparansi terkait dugaan kelalaian regulasi. Hampir selusin orang telah ditahan selama penyelidikan berlangsung. Komisi Independen Pemberantasan Korupsi (ICAC) Hong Kong pada Sabtu kembali menangkap tiga orang yang diduga terlibat dalam penggunaan material berbahaya saat proyek renovasi berlangsung. Sebelumnya, delapan orang termasuk konsultan, subkontraktor perancah, serta perantara telah ditahan.
Tiga tersangka terbaru merupakan pihak yang bertanggung jawab dalam perusahaan kontraktor terkait. Polisi juga menggeledah kantor Prestige Construction & Engineering Co., kontraktor resmi proyek renovasi, dan menahan dua direktur serta seorang konsultan teknik dengan dugaan pembunuhan tidak berencana.
Departemen Bangunan Hong Kong kemudian memerintahkan penghentian sementara 28 proyek konstruksi swasta yang dikerjakan oleh perusahaan tersebut. Langkah ini diambil karena hilangnya kepercayaan terhadap kemampuan kontraktor dalam menjaga keselamatan, termasuk temuan penggunaan papan busa polistirena yang mudah terbakar. Dua proyek lain juga dihentikan setelah ditemukan penggunaan lembar plastik yang dianggap berisiko.
Sejumlah penghuni Wang Fuk Court sebelumnya menyatakan telah berulang kali melaporkan potensi bahaya pada jaring pelindung berwarna hijau yang membungkus perancah bambu di sekitar gedung. Keluhan tersebut ditujukan pada Departemen Tenaga Kerja, namun dinilai belum mendapatkan respons memadai.
Menurut keterangan Chris Tang, Sekretaris Keamanan Hong Kong, penyelidikan awal mengindikasikan bahwa kebakaran bermula dari jaring pelindung di lantai bawah Wang Cheong House, salah satu dari tujuh menara yang terdampak. Material styrofoam pada jendela turut mempercepat penyebaran api ke enam bangunan lainnya. Panas ekstrem kemudian membakar perancah bambu hingga menyebabkan kebakaran sekunder saat struktur tersebut runtuh.
Penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan, sementara otoritas terus berusaha menyelesaikan proses pencarian dan identifikasi korban. (ris)


as a preferred source on Google




