Surabaya (beritajatim.id) – Pesatnya pertumbuhan industri digital membuat generasi pekerja muda menghadapi tekanan kerja yang jauh berbeda dibandingkan era sebelumnya. Struktur organisasi yang semakin cair, perubahan strategi bisnis yang berlangsung cepat, serta tuntutan adaptasi tanpa henti membuat banyak karyawan merasa kewalahan. Tak sedikit yang harus bekerja dengan jobdesk yang belum sepenuhnya jelas, prioritas kerja yang berubah dalam hitungan minggu, hingga kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi yang tidak stabil.
Situasi tersebut paling terlihat di perusahaan rintisan atau start-up. Seorang karyawan start-up teknologi mengaku merasakan ketidakpastian setiap hari. “Kadang saya tidak tahu prioritas kerja hari ini apa. Struktur berubah cepat, tugas berubah cepat, tapi ekspektasi tetap tinggi,” ujarnya. Pengakuan ini menggambarkan bagaimana stres kerja kini menjadi isu besar yang semakin mengemuka dalam dunia profesional modern.
Dalam psikologi industri dan organisasi, stres kerja digambarkan sebagai respons emosional negatif ketika seseorang menilai tuntutan lingkungan melebihi kapasitas yang dimiliki. Pemahaman ini merujuk pada Transactional Model of Stress yang diperkenalkan Lazarus dan Folkman (1987). Jika berlangsung dalam jangka panjang dan tidak ditangani, stres dapat meningkat menjadi burnout kondisi kelelahan kronis yang menguras energi, motivasi, hingga produktivitas
Di tengah dinamika bisnis modern, terdapat dua faktor utama yang paling sering memicu stres kerja pada generasi pekerja digital:
1. Ketidakjelasan Peran (Role Ambiguity)
Banyak karyawan, terutama di perusahaan start-up, bekerja dengan job description yang belum sepenuhnya jelas atau sering berubah. Pergeseran model bisnis membuat peran karyawan ikut berubah, termasuk tugas dan tanggung jawab yang harus mereka emban. Kondisi ini membuat pekerja sering kali merasa tidak memiliki acuan jelas apakah pekerjaan yang dilakukan sudah tepat dan sesuai ekspektasi.
2. Ketidakpastian Ekonomi dan Job Insecurity
Di era ekonomi yang dinamis, perusahaan dituntut melakukan efisiensi untuk bertahan. Hal ini memicu kekhawatiran karyawan terhadap posisi mereka. Rasa takut kehilangan pekerjaan membuat energi mental terkuras, tidak hanya untuk menyelesaikan tugas harian tetapi juga untuk mempertahankan stabilitas karier.
Perubahan pola kerja digital juga melahirkan budaya baru: karyawan dituntut selalu siap siaga. Notifikasi kerja yang terus menyala, pesan yang masuk di luar jam kerja, hingga standar kecepatan respons yang semakin tinggi membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin kabur.
Tidak mengherankan bila stres kerja kini menjadi isu yang tidak dapat diabaikan baik oleh perusahaan yang ingin menjaga produktivitas maupun oleh karyawan yang berupaya mempertahankan kesehatan mentalnya. (aga)


as a preferred source on Google




