Surabaya (beritajatim.id) – Fenomena “Gummy Bear Mom” merujuk pada pendekatan pola asuh yang lebih santai namun tetap seimbang, khususnya dalam mengelola kebiasaan makan anak. Alih-alih menerapkan larangan ketat terhadap jenis makanan tertentu, konsep ini menekankan moderasi, kesadaran, dan hubungan sehat dengan makanan.
Pendekatan gummy bear mom bertujuan membantu anak mengenal berbagai jenis makanan tanpa rasa takut maupun rasa bersalah. Anak diajak memahami bahwa makanan bukan sesuatu yang perlu ditakuti, melainkan dinikmati secara bijak dan seimbang.
Meski istilahnya sering dilekatkan pada peran ibu, konsep ini sejatinya bisa diterapkan oleh siapa saja yang menjadi pengasuh anak. Intinya bukan membebaskan anak mengonsumsi camilan manis tanpa batas, melainkan membimbing mereka agar memiliki kesadaran sejak dini tentang pola makan yang sehat.
Tren Gummy Bear Mom mulai dikenal luas melalui media sosial, terutama TikTok. Salah satu kreator yang kerap membahas konsep ini adalah Jersey Justyna melalui akun @drjustyna. Istilah “gummy bear” dipilih sebagai simbol camilan manis yang identik dengan masa kecil, sekaligus merepresentasikan pola asuh yang tidak kaku namun tetap penuh pertimbangan.
Dalam berbagai kontennya, Jersey Justyna menjelaskan bahwa gummy bear mom kerap dianggap sebagai kebalikan dari konsep “almond mom”. Ia menggambarkan gummy bear mom sebagai orang tua yang tidak terlalu mengontrol secara detail apa yang boleh dan tidak boleh dimakan anak, serta lebih terbuka terhadap camilan, termasuk makanan populer di kalangan anak-anak.
Di kolom komentar, banyak orang tua mengaku merasa relevan dengan konsep ini. Mereka menyebut dibesarkan dalam lingkungan dengan aturan makan yang sangat ketat, sehingga kini memilih pendekatan yang lebih fleksibel agar anak dapat membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.
Bagi mereka, menyediakan camilan dan memberi ruang bagi anak menikmati makanan tertentu bukan berarti lalai, melainkan bentuk pendidikan pola makan tanpa tekanan berlebihan.
Istilah Gummy Bear Mom sering dipahami sebagai kebalikan dari Almond Mom, konsep yang lebih dulu viral di media sosial. Pola asuh almond mom identik dengan pengaturan ketat pola makan demi alasan kesehatan, termasuk pembatasan kalori dan pemilihan makanan secara sangat selektif.
Pendekatan ini, meski bertujuan baik, kerap membuat suasana makan terasa penuh tekanan. Tanpa disadari, hal tersebut bisa memengaruhi cara anak memandang makanan, tubuh, dan bahkan citra dirinya sendiri.
Sebaliknya, gummy bear mom tidak membagi makanan ke dalam kategori baik atau buruk. Anak diajak memahami bahwa semua jenis makanan bisa menjadi bagian dari pola hidup sehat jika dikonsumsi secara sadar dan seimbang.
Camilan manis tetap diperbolehkan, namun dalam porsi wajar. Anak diajarkan menikmati makanan tanpa rasa bersalah, sekaligus memahami pentingnya nutrisi dan keseimbangan.
Pendekatan Gummy Bear Mom ditandai dengan sikap fleksibel, penuh kesadaran, dan tidak menghakimi dalam mengelola kebiasaan makan anak. Beberapa ciri utamanya antara lain:
- Mengizinkan camilan manis seperti es krim setelah anak mengonsumsi makanan utama yang seimbang, sebagai bentuk moderasi.
- Menyimpan camilan seperti keripik, permen, atau biskuit di rumah tanpa melabelinya sebagai makanan terlarang.
- Menyiapkan bekal dengan kombinasi buah, makanan utama, dan camilan manis dalam porsi kecil agar anak terbiasa dengan keseimbangan.
- Mengajak anak aktif bergerak lewat bermain atau kegiatan keluarga tanpa mengaitkannya dengan kewajiban membakar kalori.
- Menyajikan masakan rumahan hampir setiap hari, namun tetap menikmati makanan cepat saji sesekali tanpa rasa bersalah.
- Mendorong konsumsi sayur dengan pendekatan persuasif, bukan paksaan.
- Menghargai sinyal kenyang anak dan tidak memaksa mereka menghabiskan makanan.
- Tidak mengontrol secara detail setiap makanan yang dikonsumsi anak selama pola makan keseluruhan tetap seimbang.
Fenomena Gummy Bear Mom menunjukkan perubahan cara pandang orang tua dalam mendampingi anak membangun hubungan dengan makanan. Pendekatan ini menekankan keseimbangan, kesadaran, dan empati, tanpa menjadikan makanan sebagai sumber ketakutan atau rasa bersalah.
Dengan memberi ruang bagi anak untuk mengenal berbagai jenis makanan secara wajar, gummy bear mom membantu anak belajar mendengarkan sinyal tubuhnya sendiri, memahami konsep moderasi, serta menikmati makanan sebagai bagian dari kehidupan yang sehat.
Pada akhirnya, pola asuh ini bukan tentang membiarkan anak bebas tanpa aturan, melainkan membimbing mereka tumbuh dengan hubungan yang lebih positif terhadap makanan, tubuh, dan kesehatan jangka panjang. (aga)


as a preferred source on Google




