Surabaya (beritajatim.id) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Indonesia pada 2026 akan datang lebih cepat dari biasanya. Fenomena ini diperkirakan mulai terasa pada April 2026, dipicu oleh kondisi iklim global yang berpotensi menyebabkan cuaca lebih panas dan kering di berbagai wilayah.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebut puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Kondisi kering diprediksi meluas dan mendominasi sebagian wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Papua, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku.
Perubahan pola musim ini diperkirakan berdampak pada sejumlah sektor penting, terutama pertanian dan peternakan yang menjadi penopang ketahanan pangan nasional. Salah satu risiko yang mulai diantisipasi adalah berkurangnya ketersediaan hijauan segar sebagai pakan utama ternak ruminansia.
Ancaman Kekurangan Pakan Ternak
Kekeringan berkepanjangan berpotensi membuat rumput dan tanaman hijauan semakin sulit diperoleh. Kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas ternak seperti sapi, kambing, dan domba, baik dari sisi pertumbuhan, produksi susu, maupun produksi daging.
Dosen Peternakan Kedokteran Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga, Drh Bodhi Agustono MSi, menilai peternak perlu mulai melakukan langkah antisipatif sejak dini.
Menurutnya, peternak yang selama ini mengandalkan hijauan segar secara langsung perlu mulai beradaptasi dengan sistem pemeliharaan semi intensif atau intensif. Pendekatan tersebut menekankan pada manajemen pakan yang lebih terencana.
Ia menekankan bahwa stok pakan sebaiknya sudah dipersiapkan sejak musim hujan, ketika hijauan tersedia melimpah. Dengan pengelolaan yang tepat, hijauan tersebut dapat diawetkan sehingga tetap dapat digunakan saat musim kemarau berlangsung lama.
Metode Silase dan Hay Jadi Solusi
Dalam praktik peternakan modern, terdapat dua metode utama yang dapat digunakan untuk mengawetkan hijauan pakan ternak, yaitu silase dan hay.
Silase merupakan metode pengawetan hijauan segar melalui proses fermentasi tanpa oksigen (anaerob). Bahan yang umum digunakan antara lain rumput gajah, jagung, atau tanaman hijauan dengan kadar air tinggi. Proses fermentasi ini menjaga kandungan nutrisi pakan tetap stabil dan memungkinkan penyimpanan dalam waktu relatif lama.
Sementara itu, hay atau hein dilakukan dengan cara mengeringkan hijauan hingga kadar airnya rendah. Rumput lapangan atau tanaman leguminosa seperti alfalfa sering digunakan sebagai bahan utama. Dengan kadar air yang minim, pakan dapat disimpan selama berbulan-bulan tanpa mengalami pembusukan.
Kedua metode tersebut dinilai efektif untuk menjaga ketersediaan pakan selama periode kemarau panjang.
Edukasi Peternak Masih Jadi Tantangan
Meski teknik silase dan hay telah lama digunakan di negara dengan sistem peternakan modern, penerapannya di Indonesia masih terbatas. Salah satu kendala utama adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan peternak dalam memproduksi pakan awetan tersebut.
Bodhi menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan tersebut. Melalui program pengabdian masyarakat, pelatihan, serta pendampingan teknis, akademisi dapat membantu peternak memahami teknik pengawetan pakan dan menerapkannya secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok peternak juga dinilai penting untuk mempercepat adopsi teknologi pakan di lapangan.
Peringatan Dini BMKG Jadi Alarm Antisipasi
Peringatan dini dari BMKG, lanjut Bodhi, seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan dinas terkait untuk menyiapkan langkah mitigasi sejak dini.
Selain memastikan ketersediaan pakan ternak, pemerintah juga perlu mengantisipasi potensi krisis air bersih di wilayah yang berisiko mengalami kekeringan ekstrem. Pasokan air tidak hanya penting bagi ternak, tetapi juga bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.
Dengan langkah antisipatif yang dilakukan sejak sekarang, dampak musim kemarau panjang terhadap sektor peternakan diharapkan dapat diminimalkan, sekaligus menjaga stabilitas produksi pangan nasional. (ris)


as a preferred source on Google




