Close Menu
beritajatim.idberitajatim.id
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
beritajatim.idberitajatim.id
Web Utama
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
beritajatim.idberitajatim.id
Home»News»Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal, Akademisi Ingatkan Peternak Siapkan Stok Pakan Ternak Sejak Musim Hujan

Kemarau 2026 Diprediksi Datang Lebih Awal, Akademisi Ingatkan Peternak Siapkan Stok Pakan Ternak Sejak Musim Hujan

Ade MSGAde MSG News 12 Maret 2026
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Dosen Peternakan Kedokteran Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga, Drh Bodhi Agustono MSi
Dosen Peternakan Kedokteran Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga, Drh Bodhi Agustono MSi

Surabaya (beritajatim.id) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau di Indonesia pada 2026 akan datang lebih cepat dari biasanya. Fenomena ini diperkirakan mulai terasa pada April 2026, dipicu oleh kondisi iklim global yang berpotensi menyebabkan cuaca lebih panas dan kering di berbagai wilayah.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyebut puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026. Kondisi kering diprediksi meluas dan mendominasi sebagian wilayah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Papua, Bali, Nusa Tenggara, hingga Maluku.

Perubahan pola musim ini diperkirakan berdampak pada sejumlah sektor penting, terutama pertanian dan peternakan yang menjadi penopang ketahanan pangan nasional. Salah satu risiko yang mulai diantisipasi adalah berkurangnya ketersediaan hijauan segar sebagai pakan utama ternak ruminansia.

Ancaman Kekurangan Pakan Ternak

Kekeringan berkepanjangan berpotensi membuat rumput dan tanaman hijauan semakin sulit diperoleh. Kondisi ini dapat memengaruhi produktivitas ternak seperti sapi, kambing, dan domba, baik dari sisi pertumbuhan, produksi susu, maupun produksi daging.

Dosen Peternakan Kedokteran Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga, Drh Bodhi Agustono MSi, menilai peternak perlu mulai melakukan langkah antisipatif sejak dini.

Menurutnya, peternak yang selama ini mengandalkan hijauan segar secara langsung perlu mulai beradaptasi dengan sistem pemeliharaan semi intensif atau intensif. Pendekatan tersebut menekankan pada manajemen pakan yang lebih terencana.

Baca Juga:  Harga Emas Pegadaian Hari Ini Naik Dua Hari Berturut-turut, UBS dan Galeri24 Kompak Menguat

Ia menekankan bahwa stok pakan sebaiknya sudah dipersiapkan sejak musim hujan, ketika hijauan tersedia melimpah. Dengan pengelolaan yang tepat, hijauan tersebut dapat diawetkan sehingga tetap dapat digunakan saat musim kemarau berlangsung lama.

Metode Silase dan Hay Jadi Solusi

Dalam praktik peternakan modern, terdapat dua metode utama yang dapat digunakan untuk mengawetkan hijauan pakan ternak, yaitu silase dan hay.

Silase merupakan metode pengawetan hijauan segar melalui proses fermentasi tanpa oksigen (anaerob). Bahan yang umum digunakan antara lain rumput gajah, jagung, atau tanaman hijauan dengan kadar air tinggi. Proses fermentasi ini menjaga kandungan nutrisi pakan tetap stabil dan memungkinkan penyimpanan dalam waktu relatif lama.

Sementara itu, hay atau hein dilakukan dengan cara mengeringkan hijauan hingga kadar airnya rendah. Rumput lapangan atau tanaman leguminosa seperti alfalfa sering digunakan sebagai bahan utama. Dengan kadar air yang minim, pakan dapat disimpan selama berbulan-bulan tanpa mengalami pembusukan.

Kedua metode tersebut dinilai efektif untuk menjaga ketersediaan pakan selama periode kemarau panjang.

Edukasi Peternak Masih Jadi Tantangan

Meski teknik silase dan hay telah lama digunakan di negara dengan sistem peternakan modern, penerapannya di Indonesia masih terbatas. Salah satu kendala utama adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan peternak dalam memproduksi pakan awetan tersebut.

Bodhi menilai perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjembatani kesenjangan tersebut. Melalui program pengabdian masyarakat, pelatihan, serta pendampingan teknis, akademisi dapat membantu peternak memahami teknik pengawetan pakan dan menerapkannya secara berkelanjutan.

Baca Juga:  Polres Jember dan PT KAI Daop 9 Gencarkan Sosialisasi Keselamatan di Perlintasan KA

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok peternak juga dinilai penting untuk mempercepat adopsi teknologi pakan di lapangan.

Peringatan Dini BMKG Jadi Alarm Antisipasi

Peringatan dini dari BMKG, lanjut Bodhi, seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah daerah dan dinas terkait untuk menyiapkan langkah mitigasi sejak dini.

Selain memastikan ketersediaan pakan ternak, pemerintah juga perlu mengantisipasi potensi krisis air bersih di wilayah yang berisiko mengalami kekeringan ekstrem. Pasokan air tidak hanya penting bagi ternak, tetapi juga bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak.

Dengan langkah antisipatif yang dilakukan sejak sekarang, dampak musim kemarau panjang terhadap sektor peternakan diharapkan dapat diminimalkan, sekaligus menjaga stabilitas produksi pangan nasional. (ris)

Add beritajatim.id as a preferred source on Google+
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Berita
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Berita Lainnya

Universitas Terbuka dan UNESA mengembangkan menu kantin berbasis pangan lokal di Sidoarjo guna mewujudkan kantin sekolah sehat dan bergizi.

Universitas Terbuka Kembangkan Menu Kantin Berbasis Pangan Lokal di Sidoarjo

21 Juli 2026 News
Wamenhut meluncurkan dokumen status keanekaragaman hayati Indonesia sebagai acuan IBSAP 2025–2045 untuk mendukung konservasi berbasis data.

Wamenhut Luncurkan Dokumen Status Keanekaragaman Hayati, Jadi Acuan IBSAP 2025–2045 dan Target SDGs

21 Juli 2026 News
Polsek Kedunggalar berhasil memadamkan kebakaran lahan di Ngawi usai menerima laporan melalui Call Center 110. Polisi mengimbau warga waspada selama musim kemarau.

Respons Cepat Call Center 110, Polsek Kedunggalar Berhasil Padamkan Kebakaran Lahan di Ngawi Sebelum Meluas

21 Juli 2026 News
Satlantas Polres Malang mengedukasi 1.250 pelajar SMAN 1 Sumberpucung tentang keselamatan berkendara dan budaya tertib berlalu lintas sejak dini.

Satlantas Polres Malang Edukasi 1.250 Pelajar SMAN 1 Sumberpucung, Tanamkan Budaya Tertib Berlalu Lintas

21 Juli 2026 News
Komnas HAM RI

Komnas HAM Rilis Penilaian HAM 2025, BKKBN Raih Nilai Tertinggi, Kemenhub Masuk Kategori Rendah

20 Juli 2026 News
Wali Kota Mojokerto sosialisasikan Beasiswa Pro Bestari 2026. Pemkot mengalokasikan lebih dari Rp1 miliar dengan bantuan Rp3,6 juta per semester.

Wali Kota Mojokerto Beasiswa Pro Bestari 2026, Mahasiswa Berpeluang Terima Rp3,6 Juta per Semester

20 Juli 2026 News
Leave A Reply Cancel Reply

Universitas Terbuka dan UNESA mengembangkan menu kantin berbasis pangan lokal di Sidoarjo guna mewujudkan kantin sekolah sehat dan bergizi.

Universitas Terbuka Kembangkan Menu Kantin Berbasis Pangan Lokal di Sidoarjo

21 Juli 2026
Berita Terbaru
PN Jepang Sanae Takaichi

Survei Mainichi: Tingkat Kepuasan Publik terhadap Kabinet PM Jepang Sanae Takaichi Turun ke 41 Persen

20 Juli 2026
Komnas HAM RI

Komnas HAM Rilis Penilaian HAM 2025, BKKBN Raih Nilai Tertinggi, Kemenhub Masuk Kategori Rendah

20 Juli 2026
Wali Kota Mojokerto sosialisasikan Beasiswa Pro Bestari 2026. Pemkot mengalokasikan lebih dari Rp1 miliar dengan bantuan Rp3,6 juta per semester.

Wali Kota Mojokerto Beasiswa Pro Bestari 2026, Mahasiswa Berpeluang Terima Rp3,6 Juta per Semester

20 Juli 2026
Polri menetapkan tiga tersangka kasus dugaan korupsi pembiayaan PT PPA kepada PT BAS. Kerugian negara mencapai Rp38,8 miliar dan aset Rp14,4 miliar disita.

Polri Tetapkan Tiga Tersangka Korupsi Pembiayaan PT PPA ke PT BAS, Kerugian Negara Capai Rp38,8 Miliar

20 Juli 2026

12 Tips Menggoreng Ikan agar Tidak Berminyak, Renyah Tahan Lama dan Matang Sempurna

20 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Tentang
  • Network
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© 2026 beritajatim.ID | portal berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.