Jakarta (beritajatim.id) – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap dua kapal tanker komersial di Laut Merah. Peristiwa ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu kekhawatiran meluasnya perang di kawasan.
Melalui kantor berita SABA yang dikelola Houthi, kelompok tersebut menyatakan telah menyerang kapal tanker Encelia dan Layla dalam dua insiden terpisah. Serangan itu diklaim menyebabkan kebakaran di kedua kapal sebagai bagian dari kampanye terhadap kapal-kapal yang memiliki keterkaitan dengan Arab Saudi.
Jika dikonfirmasi secara independen, serangan tersebut akan menjadi aksi pertama Houthi terhadap pelayaran komersial sejak kelompok itu mengumumkan blokade terhadap kapal-kapal yang berafiliasi dengan Arab Saudi pada awal pekan ini.
Houthi menuding Arab Saudi masih mempertahankan blokade terhadap Yaman serta mendukung operasi militer di wilayah yang berada di bawah kendali kelompok tersebut. Atas dasar itu, mereka menyatakan kapal yang memiliki hubungan dengan Arab Saudi tidak lagi diizinkan melintasi Selat Bab el-Mandeb.
Selat Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Jalur ini menjadi lintasan utama perdagangan global dengan sekitar 12 persen arus perdagangan dunia melewati kawasan tersebut. Gangguan keamanan di wilayah ini berpotensi memengaruhi rantai pasok internasional, distribusi energi, hingga biaya logistik global.
Seorang pejabat senior Houthi menyatakan blokade terhadap kapal yang terkait Arab Saudi akan tetap diberlakukan hingga blokade yang disebut dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi terhadap Yaman dihentikan.
Di sisi lain, Kantor Berita Arab Saudi (SPA) mengutip sumber dari General Authority of Transport yang mengonfirmasi adanya satu kapal yang terbakar akibat serangan. Namun, otoritas Saudi menyatakan tidak ada korban jiwa di antara awak kapal. Pernyataan tersebut tidak menyinggung kapal tanker kedua yang disebut Houthi.
Pada saat bersamaan, situasi keamanan kawasan semakin memburuk setelah media pemerintah Iran melaporkan serangan rudal Amerika Serikat memasuki malam ke-12 berturut-turut di wilayah barat Iran. Serangan disebut menyasar sejumlah lokasi di sekitar Ahvaz, Ramshir, dan Andimeshk.
Media Iran juga melaporkan dua orang tewas di kota perbatasan Shalamcheh, dekat Irak, yang diklaim sebagai dampak serangan rudal Amerika Serikat.
Sebagai respons terhadap operasi militer tersebut, Iran disebut telah meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi dan instalasi desalinasi air di sejumlah negara Teluk. Beberapa negara di kawasan juga melaporkan keberhasilan mencegat rudal dan pesawat nirawak yang masuk ke wilayah mereka, menandakan meningkatnya ancaman terhadap stabilitas regional.
Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi menegaskan negaranya akan memberikan respons tegas terhadap setiap serangan yang ditujukan kepada Iran. Melalui pernyataan di media sosial X, Araghchi menyampaikan bahwa Iran akan menerapkan prinsip “mata ganti mata” dalam mempertahankan diri, termasuk merespons setiap serangan terhadap infrastruktur nasional.
Belum adanya tanda-tanda terobosan diplomatik membuat kekhawatiran akan meluasnya konflik semakin besar. Aktivitas militer yang meningkat di sejumlah negara memunculkan risiko perang regional yang dapat berdampak pada stabilitas ekonomi dan keamanan internasional.
Di tengah situasi tersebut, Pemerintah China menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap memburuknya kondisi keamanan di kawasan Teluk dan Timur Tengah. Kementerian Luar Negeri China menyerukan seluruh pihak untuk menahan diri, menghentikan aksi yang dapat memperburuk situasi, serta kembali mengedepankan dialog dan diplomasi.
Beijing menilai eskalasi militer tidak menguntungkan pihak mana pun dan menegaskan pentingnya menghormati kedaulatan, keamanan, serta integritas wilayah setiap negara. China juga menekankan bahwa negosiasi tetap menjadi satu-satunya jalan yang layak untuk mencapai stabilitas jangka panjang.
Pemerintah China menyatakan kesiapannya untuk terus berkontribusi dalam berbagai upaya internasional guna meredakan ketegangan dan memulihkan perdamaian di kawasan. Beijing menegaskan akan melanjutkan peran konstruktif berdasarkan proposal empat poin yang sebelumnya disampaikan Presiden Xi Jinping sebagai bagian dari upaya mendorong penyelesaian konflik secara damai. (hdl)


as a preferred source on Google




