Surabaya (beritajatim.id) – Dalam beberapa waktu terakhir, istilah quiet quitting semakin sering muncul di media sosial dan forum profesional. Fenomena ini banyak dibicarakan oleh pekerja muda usia 18–35 tahun, khususnya mereka yang bekerja di wilayah perkotaan seperti Surabaya, Sidoarjo, hingga Malang. Tekanan kerja yang tinggi serta tuntutan selalu responsif menjadi faktor utama munculnya tren ini.
Meski kerap disalahartikan, quiet quitting tidak identik dengan sikap malas atau ingin berhenti bekerja. Justru, konsep ini berkaitan erat dengan upaya menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Quiet quitting adalah sikap di mana karyawan tetap menjalankan tugas sesuai dengan deskripsi pekerjaan dan jam kerja yang telah disepakati. Namun, mereka memilih untuk tidak mengambil pekerjaan tambahan di luar tanggung jawab tanpa kompensasi yang jelas.
Dalam praktiknya, karyawan dengan pendekatan ini tetap profesional dan produktif, tetapi menolak budaya kerja berlebihan seperti lembur terus-menerus, membalas pesan kantor di luar jam kerja, atau memikul beban yang seharusnya bukan menjadi tanggung jawabnya.
Generasi muda yang tumbuh di era digital menghadapi tantangan tersendiri dalam dunia kerja. Aplikasi komunikasi membuat batas antara waktu kerja dan waktu pribadi semakin tipis. Di Jawa Timur, terutama pada sektor kreatif dan jasa, banyak pekerja muda merasa dituntut untuk selalu siap kapan saja.
Quiet quitting kemudian muncul sebagai strategi menjaga kesehatan mental. Tujuannya bukan menurunkan kinerja, melainkan mencegah kelelahan fisik dan emosional agar produktivitas tetap terjaga dalam jangka panjang.
Menetapkan batasan kerja bukan berarti menjadi karyawan yang tidak berdedikasi. Justru, hal ini dapat membantu menjaga performa kerja tetap optimal. Beberapa langkah yang bisa diterapkan antara lain:
- Disiplin terhadap jam kerja
Menyelesaikan pekerjaan sesuai waktu yang ditentukan dan benar-benar beristirahat setelah jam kerja berakhir. - Fokus pada kualitas kerja
Mengutamakan hasil yang rapi dan efektif dibandingkan memaksakan lembur yang berpotensi menurunkan kualitas. - Manfaatkan waktu akhir pekan
Mengisi waktu luang dengan aktivitas yang menyenangkan, seperti berwisata singkat atau menikmati alam di kawasan Jawa Timur, dapat membantu memulihkan energi. - Mengatur notifikasi pekerjaan
Membatasi notifikasi grup kerja saat hari libur merupakan langkah wajar demi mendapatkan waktu istirahat yang berkualitas.
Pada dasarnya, quiet quitting adalah tentang bekerja secara proporsional. Dengan batasan yang jelas, karyawan tetap dapat menunjukkan profesionalisme tanpa harus mengorbankan kesehatan mental dan kehidupan pribadi.
Karier yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh jam kerja panjang, tetapi juga oleh kemampuan menjaga keseimbangan hidup. Sebab, performa terbaik hanya bisa dicapai ketika tubuh dan pikiran berada dalam kondisi yang sehat. (aga)


as a preferred source on Google




