Bondowoso (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso terus berupaya meningkatkan kualitas sanitasi masyarakat.
Tahun ini, Dinas Perumahan, Permukiman, Cipta Karya, dan Tata Ruang (DPCKTR) Bondowoso mencatat pembangunan 32 unit Sistem Pengolahan Air Limbah Domestik (SPALD) setempat. Pembangunan tersebut diprioritaskan di wilayah dengan angka stunting tinggi.
Kepala DPCKTR Bondowoso, Dadan Kurniawan, menjelaskan bahwa SPALD terbagi dua, yakni setempat dan terpusat.
“Kalau setempat sifatnya parsial, sementara yang terpusat itu komunal atau paralel. Mayoritas di Bondowoso masih menggunakan sistem setempat,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).
Selain pembangunan utama, melalui Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2025, Pemkab juga merencanakan 12 titik tambahan SPALD setempat. Hal ini diharapkan membantu masyarakat menyiapkan sarana sanitasi minimal layak.
“Sanitasi menjadi salah satu faktor penilaian kabupaten sehat. Jadi keberadaan SPALD sangat penting,” tambah Dadan.
Menurutnya, Bondowoso pernah membangun SPALD terpusat terakhir kali pada 2023. Namun untuk mencapai level sanitasi aman, diperlukan keberadaan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT).
Saat ini, pengadaan IPLT tengah dalam proses, meski terkendala besarnya kebutuhan anggaran yang diperkirakan mencapai Rp 8 miliar.
“Sekarang Bondowoso belum memiliki IPLT. Kalau dipaksakan membangun dengan skema VHSa, biayanya sangat tinggi. Saat ini IPLT terdekat ada di Kabupaten Probolinggo,” jelasnya.
Berdasarkan data, di Jawa Timur terdapat 16 IPLT, namun yang berfungsi hanya 11 unit, dan dari jumlah itu hanya 1 yang benar-benar optimal, yakni IPLT Kota Malang.
“Rata-rata MCK domestik di Bondowoso sudah dinilai baik, bahkan penilaian bisa mencapai 100 karena idle capacity-nya cukup bagus. Tapi untuk next level, kuncinya ada di IPLT,” pungkas Dadan. (awi/ian)


as a preferred source on Google




