New York (beritajatim.id) — Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) António Guterres menyebut Laporan Adaptation Gap 2025 sebagai “red alert” atau peringatan merah bagi dunia terkait laju perubahan iklim yang semakin mengkhawatirkan.
Dalam pernyataan resminya yang dirilis pada Kamis (30/10), Guterres menegaskan bahwa dampak perubahan iklim kini meningkat pesat, sementara pembiayaan adaptasi untuk negara-negara berkembang tidak sebanding dengan kebutuhan nyata di lapangan.
“Dampak iklim semakin cepat. Namun pendanaan adaptasi belum mampu mengikuti laju perubahan ini, membuat masyarakat rentan menghadapi banjir, badai mematikan, dan panas ekstrem,” ujar Guterres.
Kebutuhan Adaptasi 12 Kali Lipat Lebih Besar dari Dana yang Diterima
Dalam laporan yang diterbitkan oleh UN Environment Programme (UNEP), disebutkan bahwa kebutuhan pendanaan adaptasi negara berkembang saat ini lebih dari 12 kali lipat dibandingkan jumlah dana yang mereka terima.
Guterres menilai kondisi ini bukan sekadar kesenjangan pendanaan, tetapi kegagalan solidaritas global.
“Kesenjangan ini diukur dalam rumah yang terendam, panen yang gagal, pembangunan yang terhenti, dan nyawa yang hilang,” tegasnya.
Seruan untuk Aksi Nyata di COP30 Brasil
Guterres menegaskan bahwa Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) yang akan digelar di Brasil pada 2025 harus menjadi titik balik. Ia menyerukan agar konferensi tersebut menghasilkan rencana aksi global yang konkret untuk memastikan negara berkembang memiliki sumber daya dan kapasitas melindungi rakyat mereka dari dampak iklim.
Ia juga meminta negara maju memenuhi janji mereka untuk melipatgandakan dana adaptasi, serta mendorong seluruh lembaga keuangan dunia untuk mengikuti peta jalan “Baku-to-Belém Roadmap” — rencana mobilisasi pendanaan iklim global sebesar US$1,3 triliun per tahun hingga 2035.
Dana tersebut diharapkan mencakup alokasi yang adil untuk adaptasi tanpa menambah beban utang negara berkembang.
Sektor Swasta dan Bank Dunia Diminta Turut Bertanggung Jawab
Selain pemerintah, Guterres juga menyoroti peran penting sektor swasta dan lembaga keuangan internasional.
Ia menegaskan bahwa keuntungan dari industri bahan bakar fosil harus digunakan untuk membiayai pemulihan dan adaptasi iklim, bukan sekadar memperbesar keuntungan korporasi.
“Bank pembangunan multilateral harus memobilisasi lebih banyak pendanaan swasta dengan bunga terjangkau dan mengalokasikan separuh dari dana iklim mereka untuk adaptasi,” tegasnya.
“Pendanaan publik juga harus lebih cepat, lebih sederhana, dan menjangkau masyarakat di garis depan saat mereka benar-benar membutuhkannya.”
Adaptasi Iklim Adalah Investasi untuk Masa Depan
Dalam pesannya, Guterres menegaskan bahwa adaptasi bukanlah biaya tambahan, melainkan investasi penyelamat kehidupan. Ia menyerukan agar semua negara mempercepat target Early Warnings for All — sistem peringatan dini bencana yang diharapkan dapat melindungi seluruh penduduk dunia sebelum 2027.
“Adaptasi bukanlah beban, tetapi garis hidup. Menutup kesenjangan adaptasi adalah cara kita melindungi kehidupan, menegakkan keadilan iklim, dan membangun dunia yang lebih aman serta berkelanjutan,” pungkasnya.
Laporan Adaptation Gap 2025 menjadi pengingat keras bahwa krisis iklim sudah terjadi sekarang, bukan di masa depan. Dengan meningkatnya intensitas bencana alam dan naiknya suhu global, PBB menyerukan agar dunia tidak menunda lagi tindakan nyata dalam membiayai dan melaksanakan upaya adaptasi iklim secara global. (hdl)


as a preferred source on Google



