Surabaya (beritajatim.id) – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, sektor kesehatan turut mengalami perubahan besar melalui hadirnya digital health. Istilah ini mencakup berbagai inovasi seperti telemedicine, aplikasi kesehatan mobile, rekam medis elektronik, wearable device, hingga pemanfaatan kecerdasan artifisial (AI).
Seluruh teknologi tersebut dikembangkan dengan tujuan meningkatkan akses layanan kesehatan, memperbaiki kualitas pelayanan, dan memberikan pengalaman perawatan yang lebih personal bagi setiap pasien.
Berbagai tinjauan sistematis menunjukkan bahwa publikasi ilmiah terkait digital health meningkat tajam sejak 2015 dan mencapai titik tertinggi pada masa pandemi COVID-19. Sebagian besar penelitian berfokus pada efektivitas intervensi berbasis teknologi, terutama aplikasi mHealth, dalam mengubah perilaku kesehatan, mendukung kepatuhan obat, dan membantu penilaian klinis. Bidang psikiatri menjadi yang paling banyak diteliti karena terapi psikologis dinilai cocok dengan pendekatan digital dan jarak jauh.
Meski hasil penelitian menunjukkan potensi positif, digital health masih menyisakan kesenjangan besar. Mayoritas studi menitikberatkan pada pertanyaan “apakah teknologi ini efektif?”, namun kurang membahas isu penting seperti efisiensi biaya, kesetaraan akses, serta fokus layanan berbasis kebutuhan pasien. Akibatnya, dunia kesehatan terjebak pada euforia “teknologi bisa dilakukan”, tetapi kurang menggali dampaknya secara merata bagi semua kelompok masyarakat.
Tantangan ini bukan hanya berbicara tentang data, tetapi tentang pengalaman manusia. Sebuah sintesis bukti berdasarkan perspektif pasien mengidentifikasi tiga pilar utama yang memengaruhi keberhasilan digital health:
1. Literasi Digital: Jurang Pengetahuan dan Adaptasi
Literasi digital menjadi hambatan terbesar dalam adopsi layanan kesehatan digital. Tantangan ini meliputi:
- Kesenjangan kemampuan antar generasi, terutama pengguna lansia yang tidak terbiasa dengan teknologi.
- Masyarakat daerah terpencil yang bahkan belum mengenal layanan kesehatan digital.
- Pengguna dengan bahasa ibu non-Inggris yang kesulitan memahami konten aplikasi kesehatan.
- Kekhawatiran akan salah input data atau salah diagnosis ketika menggunakan aplikasi secara mandiri.
Alih-alih memberdayakan, teknologi dapat menjadi penghalang bila tidak dirancang sesuai kebutuhan kelompok rentan.
2. Fungsionalitas dan Kegunaan: Desain, Akses, dan Kenyamanan
Banyak aplikasi kesehatan justru menyulitkan penggunanya karena:
- Antarmuka yang rumit dan tidak intuitif.
- Proses login yang panjang atau sering lupa kata sandi.
- Ketergantungan pada internet stabil.
- Keterbatasan perangkat, paket data, atau jaringan bagi sebagian besar masyarakat.
Selain itu, beberapa orang merasa tidak nyaman menggunakan wearable device karena stigma sosial atau rasa terganggu oleh notifikasi berlebihan. Faktor-faktor ini membuat pengguna enggan mempertahankan penggunaan jangka panjang.
3. Kepercayaan: Isu Privasi dan Hilangnya Sentuhan Manusia
Kepercayaan adalah faktor krusial yang menentukan adopsi digital health. Kekhawatiran utama meliputi:
- Risiko kebocoran data kesehatan yang sangat sensitif.
- Penyalahgunaan data untuk tujuan komersial.
- Pembagian data ke instansi lain tanpa persetujuan jelas.
- Kekhawatiran bahwa hubungan personal antara pasien dan dokter akan memudar karena berganti menjadi layanan virtual.
Bagi sebagian pasien, sentuhan manusiawi seperti empati, kontak mata, dan komunikasi nonverbal tetap menjadi elemen penting dalam proses penyembuhan.
Besarnya investasi pada teknologi informasi tidak otomatis meningkatkan produktivitas atau kualitas layanan. Penyebabnya bervariasi, mulai dari manajemen TI yang kurang optimal, infrastruktur yang belum memadai, hingga kegagalan integrasi teknologi dalam alur kerja klinis.
Agar transformasi digital di dunia kesehatan benar-benar inklusif dan berkelanjutan, beberapa langkah penting perlu ditempuh:
1. Menguatkan Riset yang Lebih Merata
Penelitian harus beralih dari sekadar mengukur efektivitas menuju kajian yang menyoroti, efisiensi biaya, pemerataan akses, dan dampak penggunaan teknologi bagi kelompok rentan.
2. Menerapkan Human-Centered Design
Aplikasi kesehatan harus dirancang berdasarkan kebutuhan pengguna, terutama mereka yang memiliki keterbatasan digital. Teknologi seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti interaksi manusia.
3. Membangun Kepercayaan Melalui Etika dan Transparansi
Diperlukan kerangka etika yang kuat, transparansi penggunaan data, keamanan siber tingkat tinggi dan standarisasi sertifikasi keamanan teknologi kesehatan.
4. Fokus pada Negara Berkembang
Inovasi digital health tidak boleh terpusat pada negara maju saja. Negara berpenghasilan rendah dan menengah membutuhkan; peningkatan infrastruktur digital, program literasi digital kesehatan, dan solusi teknologi yang ringan, murah, dan hemat daya.
Revolusi digital kesehatan bukanlah tentang menggantikan tenaga medis dengan teknologi, tetapi tentang menciptakan ekosistem yang memberdayakan pasien dan meningkatkan kualitas layanan. Masa depan digital health akan ditentukan oleh kemampuan dunia kesehatan menjembatani kesenjangan antara potensi teknologi dan realitas kebutuhan manusia. (aga)


as a preferred source on Google




