Close Menu
beritajatim.idberitajatim.id
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
beritajatim.idberitajatim.id
Web Utama
  • Home
  • News
    • Peristiwa
    • Politik
    • Hukum & Kriminal
    • Internasional
    • Pendidikan
  • Ekonomi
    • Bisnis
    • Oil&Gas
  • Sport
  • Entertainment
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Ragam
    • Komunitas
  • Seni&Budaya
  • Network
  • Indeks
beritajatim.idberitajatim.id
Home»Ragam»Pesanggrahan Ngeksiganda: Saksi Bisu Perundingan KTN dan Warisan Bersejarah Kasultanan Yogyakarta

Pesanggrahan Ngeksiganda: Saksi Bisu Perundingan KTN dan Warisan Bersejarah Kasultanan Yogyakarta

Agathon AgnarAgathon Agnar Ragam 31 Oktober 2025
Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp
Bangunan utama Pasanggrahan Ngeksiganda, Yogyakarta
Bangunan utama Pasanggrahan Ngeksiganda, Yogyakarta

Sleman (beritajatim.id) – Di lereng sejuk kawasan Kaliurang, berdiri megah sebuah bangunan bersejarah bernama Pesanggrahan Ngeksiganda. Bangunan ini bukan sekadar tempat peristirahatan keluarga Keraton Yogyakarta, tetapi juga saksi penting perjalanan diplomasi Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.

Warisan Bersejarah Kasultanan Yogyakarta

Pesanggrahan Ngeksiganda, atau dikenal juga dengan nama Pesanggrahan Ngeksigondo, terletak di Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman. Bangunan berarsitektur lokal ini memiliki luas 1.104 meter persegi di atas lahan seluas 17.888 meter persegi.

Dibangun pada awal abad ke-20 oleh seorang warga Belanda sebagai rumah peristirahatan, tempat ini kemudian dibeli oleh Sri Sultan Hamengku Buwana VIII sekitar tahun 1927. Setelah dimodifikasi, bangunan tersebut dijadikan pesanggrahan atau tempat beristirahat bagi keluarga Sultan. Modifikasi meliputi penambahan pendapa, ruang gamelan, pemandian (pasiraman), dan pagar seketheng.

Pada tahun 2011, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Pesanggrahan Ngeksiganda sebagai cagar budaya Daerah Istimewa Yogyakarta berdasarkan SK Menteri Nomor PM.89/PW.007/MKP/2011.

Makna Filosofis di Balik Nama Ngeksiganda

Nama Ngeksiganda memiliki makna filosofis yang dalam. Berdasarkan naskah Serat Wedhatama, kata ini berasal dari bahasa Sanskerta — ngeksi berarti “mata” dan ganda berarti “harum”. Jika digabung, artinya menjadi mata arum, yang kemudian dimaknai sebagai bentuk kiasan untuk “Mataram”. Nama ini mencerminkan keharuman dan kejayaan kebudayaan Mataram yang dijaga oleh Kasultanan Yogyakarta.

Baca Juga:  Pakaian Susah Kering Saat Musim Hujan? Ini 7 Cara Ampuh agar Tidak Bau Apek

Peran Penting dalam Sejarah Diplomasi Indonesia

Pesanggrahan Ngeksiganda memegang peranan penting dalam sejarah Indonesia modern. Pada masa Agresi Militer Belanda I tahun 1947, Sri Sultan Hamengku Buwana IX meminjamkan pesanggrahan ini kepada pemerintah Republik Indonesia untuk menggelar perundingan Komisi Tiga Negara (KTN).

KTN dibentuk oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai mediator antara Indonesia dan Belanda. Dalam perundingan yang digelar pada 26 Agustus 1947, hadir tiga delegasi:

  • Richard Kirby dari Australia mewakili Indonesia,
  • Paul van Zeeland dari Belgia mewakili Belanda,
  • Dr. Frank Graham dari Amerika Serikat sebagai pihak penengah.

Pertemuan di Ngeksiganda menjadi dasar bagi lahirnya Perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948 di atas kapal USS Renville. Karena perannya tersebut, Ngeksiganda dianggap sebagai saksi bisu diplomasi internasional yang memperjuangkan kedaulatan Indonesia.

Tradisi dan Nilai Budaya

Selain memiliki nilai sejarah tinggi, Pesanggrahan Ngeksiganda juga menyimpan tradisi budaya yang masih dijaga. Setiap bulan Ruwah (Syaban), digelar uyon-uyon, yaitu pertunjukan gamelan tradisional Jawa yang berlangsung dua sesi — pagi dan malam hari. Pada malam harinya, acara dilanjutkan dengan pembacaan tembang, mencerminkan perpaduan spiritual dan seni khas Jawa.

Arsitektur dan Bagian-Bagian Bangunan

Bangunan yang menghadap ke barat daya ini terdiri atas empat bagian utama, yaitu Gedung Induk, Gedung Gamelan (Gongso), Gedung Diesel, dan Gedung Telepon.

Baca Juga:  GSNI Surabaya: Wacana Penulisan Ulang Sejarah Adalah Pengkhianatan terhadap Integritas Bangsa

Gedung Induk menjadi pusat kegiatan dengan ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan ruang makan. Struktur bangunan masih mempertahankan kayu jati dan tegel klasik sebagai elemen utama.

Gedung Gamelan (Gongso) menjadi lokasi utama pertemuan KTN tahun 1947. Dahulu, gedung ini juga digunakan untuk pementasan gamelan sebagai bentuk penyambutan tamu kehormatan.

Gedung Diesel berfungsi sebagai ruang instalasi listrik cadangan, sementara Gedung Telepon digunakan untuk menerima sambungan telepon dari operator pusat — hal yang langka pada masanya.

Arsitektur Pesanggrahan Ngeksiganda memperlihatkan perpaduan antara gaya kolonial dan unsur tradisional Jawa yang harmonis. Hampir seluruh konstruksinya menggunakan kayu jati, atap seng, dan plafon logam, memperlihatkan keaslian material yang masih terjaga hingga kini.

Warisan Hidup Sejarah dan Budaya

Kini, Pesanggrahan Ngeksiganda menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya di kawasan Kaliurang. Keberadaannya tidak hanya menjadi pengingat perjuangan diplomasi bangsa, tetapi juga simbol keharmonisan antara warisan budaya Jawa dan semangat nasionalisme Indonesia. (aga)

Add beritajatim.id as a preferred source on Google+
Baca berita lainnya di Google News atau langsung di halaman Arsip Berita
sejarah Indonesia Wisata Yogyakarta
Share. Facebook Twitter LinkedIn Email WhatsApp

Berita Lainnya

12 Tips Menggoreng Ikan agar Tidak Berminyak, Renyah Tahan Lama dan Matang Sempurna

20 Juli 2026 Ragam

Ide Bekal Anak Bukan Sekadar Makanan, Ini Cara agar Si Kecil Lahap Menyantapnya

17 Juli 2026 Ragam

Fenomena Langit Juli 2026: Ada Hujan Meteor, Bima Sakti hingga Bulan Purnama Rusa

1 Juli 2026 Ragam

Nicholas Saputra Jadi Brand Ambassador Herbal Kemasan, Undang Perhatian Publik

26 Juni 2026 Lifestyle

Mengapa Sebagian Pria Tak Kunjung Menikah? Ternyata Bukan Selalu Karena Takut Komitmen

24 Juni 2026 Ragam

Pakaian Susah Kering Saat Musim Hujan? Ini 7 Cara Ampuh agar Tidak Bau Apek

23 Juni 2026 Ragam
Leave A Reply Cancel Reply

12 Tips Menggoreng Ikan agar Tidak Berminyak, Renyah Tahan Lama dan Matang Sempurna

20 Juli 2026
Berita Terbaru
Film Rejoto Nyambung Tresno menjadi media promosi wisata Kota Mojokerto sekaligus bukti keberhasilan pembinaan ekonomi kreatif oleh Pemkot.

Film Rejoto Nyambung Tresno Jadi Media Promosi Wisata Kota Mojokerto dan Bukti Sukses Ekonomi Kreatif

19 Juli 2026
Khofifah membuka Banyuwangi Ethno Carnival 2026 dan menegaskan BEC menjadi ajang promosi budaya lokal serta penggerak ekonomi kreatif Indonesia.

Khofifah Buka Banyuwangi Ethno Carnival 2026, BEC Perkuat Budaya Lokal dan Dongkrak Ekonomi Kreatif

19 Juli 2026
Dispendik Surabaya memastikan MPLS SD-SMP berlangsung ramah anak, bebas perpeloncoan, serta dipantau langsung melalui sistem Kementerian.

MPLS Surabaya 2026 Berakhir Kondusif, Dispendik Pastikan Seluruh Kegiatan Ramah Anak Tanpa Keluhan

18 Juli 2026
Polresta Malang Kota mengungkap jaringan narkotika lintas provinsi dengan menyita 3,2 kg sabu dan 2.480 butir ekstasi serta menangkap dua kurir.

Polresta Malang Kota Gagalkan Peredaran 3,2 Kg Sabu dan 2.480 Butir Ekstasi, Dua Kurir Ditangkap

18 Juli 2026
Khofifah meninjau Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Banyuwangi yang progres pembangunannya mencapai 88,7 persen dan ditargetkan segera beroperasi.

Khofifah Tinjau Sekolah Rakyat Terintegrasi Banyuwangi, Progres Hampir Rampung untuk Generasi Emas 2045

18 Juli 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube
  • Tentang
  • Network
  • Kontak
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
© 2026 beritajatim.ID | portal berita jawa timur

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.